Tuesday, March 11, 2008

product preview







Read More......

Sunday, March 9, 2008

daad






Read More......

Friday, April 6, 2007

The Bronx Tale

Abis nonton film lewat tengah malam lagi, nih. Kali ini The Bronx Tale di Trans TV. Film ini bercerita tentang seorang anak keturunan Italia kelas pekerja bernama Calogero "C" Anello (Lillo Brancato) , anak seorang sopir bus bernama Lorenzo Anello (Robert de Niro) dan Rosina Anello (Kathrine Narducci). Saat masih kecil Calogero menyaksikan langsung pembunuhan yang dilakukan oleh seorang bos gangster, Sonny LoSpechio (Chazz Palminteri). Saat ditanyai oleh polisi, Calogero melindungi Sonny sehingga bos gangster ini terbebas dari jerat hukum.
Dari sinilah cerita bermulai. Sonny, yang merasa berutang budi terhadap Calogero, lantas bersikap sangat baik terhadapnya dan memperlakukannya bagai anak sendiri. Hal ini meresahkan Lorenzo yang ingin menjauhkan anaknya dari pengaruh buruk mafia.
Konflik pun terjadi antara Sonny dan Lorenzo. Tetapi Calogero, yang mengagumi Sonny sejak kecil, tetap berhubungan baik dengan sang bos gangster. Sebagai anak keluarga miskin, Calogero terpesona dengan gaya hidup Sonny yang gemerlap layaknya seorang bos mafia. Alhasil, dia hidup dalam pengaruh 2 orang pria dewasa, ayahnya yang pekerja keras dan jujur namun miskin dan seorang kriminal flamboyan yang makmur.
Sebenarnya saya sama sekali belum pernah mendengar tentang film ini sebelumnya. Ketertarikan saya timbul saat melihat de Niro bermain sekaligus menyutradarai film ini. Apapun yang dibuat oleh de Niro sudah pasti bagus. Cerita film ini menarik. Walaupun kental dengan unsur mafia, sejatinya film ini lebih merupakan film drama dengan titik sentral seorang anak muda yang setengah mati mencari posisi di antara keluarga dan lingkungan yang buruk. Tidak banyak adegan kekerasan ala gangster di sini. Cerita lebih terfokus pada Calogero di antara pengaruh 2 pria yang sangat berkarakter dan usaha Lorenzo melindungi anaknya.
Pada akhirnya, saya sangat puas nonton film ini. Ceritanya terjalin rapi dengan sub plot yang juga bagus. Mungkin saya akan jadi penggemar de Niro dan film-film bergenre gangster macam ini...Selengkapnya tentang film ini bisa dilihat di sini.

Read More......

Thursday, April 5, 2007

There's Something About Transfer

One of Indonesian sport tabloid released that Fiorentina's Luca Toni could move to another club this summer. It's reported that some bog clubs such as Juventus, Inter, Bayern, and Roma are lining up for this Italian international signature. Should this transfer happen, Fiorentina target Adriano of Inter and Alberto Gilardino of Milan as replacement. I also read somewhere else that Real Madrid are looking for the possiblity to buy Christiano Ronaldo from Manchester United. The Spanish giant claim that they are willing to pay 80 million pounds for the Portuguese winger. Not only that, Madrid are also interesting to land Kaka from Milan. I bet that it would cost a fortune to land Kaka.
Looking at the above passage, I ask myself, "what the hell is going on?" I'm afraid that football would become a very capitalistic industry where money do all the talking. If this trend goes on, then there's a possiblity that only rich clubs dominate the main stage. The power of football will be determined by clubs' bank account. Conservative values like regeneration and improving young players will be gone. Big clubs would no longer care about their young players. They wouldn't spend so much time to improve young talents into quality players. They wouldn't bother to do so. Just reach deeply into their pocket and jump into market.
This trend would also affect the players' salary. Expensive players would demand high salary. They will become a celebrity instead of a hardworking players. This could make them more and more individualistics. What will the result of this phenomena? Yes, football would become more individualistic. They will play for themselves instead of the team's pride. Football can be veri boring to watch, then. I think FIFA should consider the salary cap system so that clubs can only have a few number of star players. Big players would spread all around the club and there will be no domination by 1 or 2 club(s).

Read More......

Kembali ke Laptop

Berita laptop anggota dpr kemarin sempat bikin heboh. Untung akhirnya dibatalin. Kalo gk dibatalin mungkin akan ada kejadian-kejadian berikut:

1. dvd rom laptop bakalan kotor karena dikira asbak sama anggota dpr yang terhormat...
2. mereka akan mengartikan windows sebagai "jendela" sehingga bakalan rame-rame borong gorden...
3. kapasitas hard disk drive akan habis untuk menyimppan video anggota dpr sama penyanyi dangdut simpanannya....
just kidding, just for lakk....

Read More......

Monday, April 2, 2007

Bachelor Degree for President

There's a hot issue regarding Indonesian presidency right now. There's a suggestion that the next Indonesian president must hold a bachelor degree. The reason for this suggestion is to increase the quality of the president.
Strong debates are easy to find regarding this issue. Some say that it's just a political movement to prevent Megawati Soekarnoputri going into the election because she never, indeed, finished her bachelor degree. Well, i don't know if it's a political movement or not because I can never understand politic.
Something I'm sure of is that there's no guarantee that someone who holds bachelor degree has the required ability or competency to become a leader. I believe that no Indonesian student ever received any lecture about how to be a leader. I also believe that leadership is something to learn, not to study.
History showed that Indonesia had bachelor degree holders president such as Soekarno, and Habibie. But we have to remember that Soekarno gained his leadership quality through his political activity, not his study at school. Habibie? Altough a genius, I don't think that he is a good leader. He's more suitable to become a technocrate instead of a birocrate. Soeharto gained his leadership quality from the military academy (he's a general, remember?) while Megawati and Gus Dur gained their leadership quality through their political activity as political party leader.
So, i still believe that leadership is something to learn, not study. You don't have to be a rocket scientist to become a good leader.

Read More......

Friday, March 23, 2007

Casino

Saya mau nulis review film, nih. sori kalo kurang bagus soalnya saya memang belum punya pengalaman sebagai movie critics :)
Semalam baru saja saya nonton sebuah film yang ditayangkan lewat tengah malam di Indosiar. Judulnya Casino. Tadinya saya pikir ini cuma sebuah film yang biasa-biasa saja karena diputarnya pun lewat tengah malam. Tapi kemudian saya lihat di credit title bahwa Martin Scorsese menyutradarai film ini, pun Robert de Niro dan Joe Pesci bermain di film ini. Saya langsung tertarik untuk nonton karena 3 nama tadi adalah nama
besar di Hollywood. Sharon Stone juga ada di sini. Ternyata saya tidaklah salah. Casino yang memang sebuah film yang bagus dan saya beruntung bisa menontonnya.
Casino bertema tentang kehidupan para mafia di Amerika. Ace (de Niro) adalah seorang mafia yang bertugas mengelola sebuah kasino di Las Vegas. dia menikah dengan Ginger (Stone), seorang perempuan cantik yang akrab dengan kehidupan kasino ala Las Vegas. Nicky (Pesci) adalah seorang bos mafia yang juga sahabat karib Ace. Mereka menjalani hidup layaknya kehidupan mafia di Las Vegas. Masalah mulai muncul ketika Nicky mulai terlibat konflik dengan Ace karena karakter Nicky yang meledak-ledak dan emosional. Di sinilah film mulai bergulir. Persahabatan dua orang mafia ini diuji dengan datangnya masalah-masalah yang menimbulkan konflik kepentingan untuk Ace. Ijin judi Ace bermasalah karena dia diketahui terlibat dengan Nicky yang merupakan seorang bos mafia. Selain itu masih ada lagi masalah antara Ace dan Ginger yang ternyata seorang pemadat dan diperas oleh pacar lamanya.
Film ini benar-benar bagus. Scorsese menunjukkan kelasnya sebagai seorang sutradara berkelas Oscar. Dia dengan detil menggarap intrik-intrik yang terjadi di film ini. Kekerasan ala mafia pun ditampilkan dengan lugas. Film ini memang bukan film full action yang sarat dengan kekerasan, darah, atau kejar-kejaran mobil. Scorsese memang tidak banyak menampilkan adegan kekerasan standar Hollywood tapi dia menampilkannya secara tepat tanpa terkesan mubazir. Adegan kekerasan khas mafia (bom mobil,pemukulan, pembunuhan diam-diam) disajikan dengan sangat baik.
Menurut saya, de Niro dan Pesci bermain luar biasa di film ini. De Niro mampu menampilkan sosok bos kasino yang kaya, elegan, pintar, sekaligus juga kejam. Dia bisa tampil layaknya seorang businessman sejati, tapi juga sosok yang kejam saat dia menangkap seorang penjudi yang curang di kasinonya. Pesci juga luar biasa. Dia sukses menampilkan sosok Nicky sebagai seorang bos mafia yang kejam, licik, tetapi sangat sayang pada anaknya. Ini tipikal umum mafia Italia. Bukan hanya cara bicaranya yang keras dan dipenuhi sumpah serapah tapi juga gesture-nya menunjukkan bahwa dia memang orang yang kejam dan bisa membuat kita yang nonton menjadi jijik dan sebal kepadanya. Tapi sayang, Stone dan de Niro kurang begitu bagus dalam beradu akting antara keduanya. Tidak terlalu terasa bahwa mereka adalah sepasang suami istri penuh konflik yang pada akhirnya saling membenci. Agak aneh juga melihat sosok Ace yang flamboyan dan macho tapi terlihat lemah dan tidak tegas terhadap istrinya.
Anyway, film ini sangat layak untuk ditonton.

Read More......